Ceritaku

Family First and Keep Writing

Awal tahun menjadi momentum perubahan melangkah menuju resolusi baru. Bersasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), re·so·lu·si adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yg ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Singkatnya, resolusi adalah tujuan atau sesuatu yang hendak saya capai selama setahun. Resolusi merupakan semangat untuk bertindak dan pengaruhnya sangat besar dalam kehidupan sepanjang tahun yang akan di jalani. Resolusi yang berhasil dilaksanakan menjadi satu langkah besar dalam kehidupan untuk sampai kepada cita-cita dan tujuan hidup.

Resolusi perlu dan WAJIB ditulis untuk selalu mengingatkan tujuan yang akan dicapai dan fokus melakulan upaya mencapai tujuan. Berdasarkan pengalaman menulis resolusi setiap tahun, kali ini saya membuatnya berbeda. Bila dulu membuat resolusi sebatas harapan yang berusaha diwujudkan selama setahun, kali ini menuliskan resolusi lebih terperinci. Resolusi di tahun 2018 ini saya buat berdasarkan SMART yaitu; Specific (unik/detil); Measurable (terukur); Achievable (bisa diraih, tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah); Realistic (berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari); dan Timebond (memiliki batas waktu).

Hal berbeda dari resolusi tahun-tahun sebelumnya adalah tentang skala prioritas. Saya memutuskan untuk fokus kepada keluarga (baca: suami dan anak-anak). Mereka yang banyak berkorban pada pencapaian resolusi saya tahun sebelumnya. Suami yang memberikan dukungan penuh baik moril maupun materil di saat saya bersekolah. Anak

(Fatih dan Ayesha) yang harus banyak menghabiskan waktu di daycare saat saya ke kampus. Kehadiran Ajwah pun masih menyibukkan saya dengan urusan karir. HARUS berubah dan sekarang waktunya, menempatkan keluarga sebagai PRIORITAS PERTAMA DAN UTAMA.

Memprioritaskan keluarga dan menomor ke sekian kan karir akan berdampak pada melambatkannya perjalanan karir saya. Keputusan yang mungkin bagi sebahagian orang “patut disayangkan” karena peluang karir dosen dengan jenjang pendidikan strata 3 (S3) sangat besar. Tapi masih ada “benang merah” yang mampu menyatukan keluarga dan karir saya yaitu MENULIS. Akan banyak cerita yang bisa terangkai dengan membersamai keluarga dan dituangkan dalam tulisan. Sebagai seorang dosen, menulis adalah suatu keniscayaan karena menulis bagian dari literasi dan dosen harus memiliki kemampuan literasi yang mumpuni agar menjadi pendidik sesuai Tri Dharma perguruan tinggi.

Resolution of The Year

Memantapkan hati dan memohon ridha-Nya (Allah SWT) dan ridhanya (suami), melangkah di tahun 2018 dengan prinsip FAMILY FIRST and KEEP WRITING.

9 thoughts on “Family First and Keep Writing

  1. ya hidup adalah sebuah pilihan

    dan dalam hidup itu menurut sy tidak ada kata balance.
    yang ada hanya prioritas didalam hidup ini.

    kedewasaan dan kebijaksanaan lah seorang ibu Ina yang baru saya dapat dalam tulisan ini.

    Career yg cemerlang sebagai lulusan S3 akan terbuka lebar tetapi ibu ina memilih KELUARGA (ANAK DAN SUAMI ) adalah PRIORITAS dalam hidup ibu Ina..
    ya keluarga memang harta yang paling berharga didunia ini.

    dari tulisan ini juga sy belajar keiklasan seorang wanita.
    keluarga diatas segala2. menjadi ibu yg terbaik dan menjadi istri yg soleha. jauh lebih penting dari apapun itu.

    i get a new experience.
    thank you so much ?

  2. Saya harus belajar banyak ke ibu Ina, tentang bagaimana menggapai karir dan tetap fokus dalam keluarga,,,,
    Heheheheh, sekedar siapkan diri jika hari itu tiba. Mohon bimbingannya =D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *